Loading...
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Juni 2009

Ke PT.Multiphala Agrinusa



Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan UNLAM angkatan 2007 mengadakan kunjungan lapangan ke PT. Multiphala Agrinusa pada Selasa, 2 Juni 2009. PT. Multiphala merupakan salah satu pabrik yang memproduksi pakan ternak dan merupakan salah satu pabrik dari 12 pabrik pakan ternak milik Japfa. Di Pabrik tersebut para mahasiswa yang didampingi oleh 2 orang dosen dan staf administrasi diberikan penjelasan mengenai proses yang dialami oleh Jagung sebagai bahan baku utama, sampai akhirnya menjadi Pakan Ternak yang siap mengisi perut ayam Broiler atau pun itik (bebek). Pihak perusahaan sangat ramah dalam menyambut kami para civitas akademika (mahasiswa dan dosen) bahkan di akhir pertemuan, pihak perusahaan meminta saran dan kritik atas pabrik mereka terutama dalam hal pengelolaan lingkungan. Sifat keterbukaan ini merupakan hal yang cukup langka dan saya sangat menghargai hal tersebut. Berdasarkan pengalaman biasanya perusahaan kurang terbuka mengenai pengelolaan lingkungan. Beberapa waktu yang lalu saya pernah ingin mengajukan permohonan untuk mengadakan kunjungan lapangan ke sebuah perusahaan dan mereka memberikan berbagai macam alasan penolakan. Untungnya, PT.Multiphala sangat kooperatif dan terbuka...
Akhirnya saya berharap kegiatan ini dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi saya, dan bagi mahasiswa agar mendapatkan gambaran mengenai kondisi di lapangan.
read more “Ke PT.Multiphala Agrinusa”
Selasa, 19 Mei 2009

Kunjungan Ke PT. Indofood


Hari ini Selasa, 19 Mei 2009 saya bersama para dosen Teknik Lingkungan yang lain, yaitu Ibu Rima, Ibu Indah, Pak Dheo, Pak Syamsuri dan Misbah mengadakan kunjungan ke Pabrik Pt.Indofood di Liang-anggang bersama para mahasiswa Teknik Lingkungan Unlam Angkatan 2008 (Iman cs). Proses realisasi dari kegiatan kami ini mengalami banyak sekali kendala, hanya saja sebagian besar kendala datang dari pihak intern bukan dari pihak Indofood sebagai pihak luar kampus yang kami ajak untuk bekerjasama. Mungkin hal ini akan manjadi bahan bagi kami para staf pengajar dan pihak terkait (program studi dan fakultas) untuk mengoreksi diri. Setelah berbagai kendala tersebut berhasil kami atasi dengan segala keterbatasan kami maka akhirnya kami dapat melaksanakan kunjungan. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit akhirnya kami sampai di Pabrik PT.Indofood dan mendapat sambutan yang sangat baik. Kami diberi penjelasan mengenai proses produksi mie yang dilaksanakan di pabrik tersebut dan kami diberi jamuan Popmie sambil menyimak penjelasan dari pihak Indofood.



Proses produksi mie instan

Setelah penjelasan singkat kami diijinkan melihat secara langsung proses produksi di pabrik dan setelah itu sesi tanya jawab dilaksanakan. Sesi tanya jawab berlangsung sangat baik, banyak mahasiswa-mahasiswi yang memberikan pertanyaan seputar proses produksi, pengolahan dan pengelolaan limbah, kesehatan karyawan, pengaruh produk mie tersebut bagi kesehatan konsumen dan lain-lain. Kemudian ada serah terima kenang-kenangan dari pihak Indofood kepada rombongan kami, hanya saja kami tidak memberikan kenang-kenangan kepada pihak Indofood. Hal ini sedikit banyak disebabkan oleh berbagai macam kendala yang telah disebutkan terdahulu dan hal ini juga memberikan gambaran konkrit mengenai seperti kampus kita tercinta ini dikelola. Menjelang pulang kami diberi sovenir berupa 5 bungkus mie instan dengan berbagai merek dan rasa yang berbeda.

Akhir kata saya berharap bahwa kunjungan kami ini bermanfaat baik bagi kami para staf pengajar dan administrasi serta bagi para mahasiswa.
read more “Kunjungan Ke PT. Indofood”

Sebuah cerita mengenai Pedagang Kaki Lima

Berikut ini merupakan curahan hati seorang teman baik saya yang sekarang ini berdomisili di Bandung, Jawa Barat. Saya tertarik menampilkannya di blog ini supaya lebih banyak orang yang bisa membacanya dan diharapkan agar orang indonesia yang punya "critical thinking" lebih banyak lagi. Selamat membaca...


a little note from a little seeker :-)
(by Puji Lestari)

note ini merupakan hasil pengalamanku yang terjadi pada tanggal 16 mei 2009 sore....

waktu itu, aku lagi dalam perjalanan menuju dago untuk keperluan data thesis...saat melewati daerah simpang...i just noticed that there were a lot of police around dan no PKL in sight...aku pikir para PKL diusir again....tapi makin ke daerah atas, kok makin banyak bendera partai demokrat...jalanan sepi banget...baru deh sadar kalo SBY ada di sheraton...excuse me for not knowing...just not interested in politics and such...

i wonder....apakah para PKL yang ngga dagang hari itu diberi kompensasi atas 'pengorbanan' yang mereka lakukan....apakah mereka tidak boleh berdagang karena segi keamanan presiden atau karena memalukan citra bandung....inside, i hope that it was for the safety of the president and not because they were an embarrassment to the city....PKL merupakan masyarakat yang berusaha untuk mencari nafkah atas kemampuan mereka yang terbatas....masyarakat yang berusaha sejahtera atas kemampuan mereka sendiri....dimana kesejahteraan itu sendiri (menurut aku) bukan saja merupkan hak setiap individu tetapi juga kewajiban pemerintah untuk memenuhinya....

sampai sekarang, aku masih ngga ngerti kenapa PKL selalu dianggap sebagai masalah....mereka membuka lapangan kerja mereka sendiri....mereka bahkan juga mempunyai trickle down effect yang besar....dimana manfaat yang dirasakan dari kehadiran mereka bukan saja untuk para pedagang itu sendiri tetapi juga oleh produsen produk yang mereka jual, para tenaga kerja yang bekerja di produksi barang dagangan mereka, keluarga pedagang, juga masyarakat menengah rendah yang sebagian besar kebutuhannya dipenuhi oleh para pedagang kaki lima tersebut. Apakah karena mereka tidak tertata rapi, tidak keliatan seperti memberikan PAD bagi pemerintah sehingga mereka dianggap sebagai nuisance? PKL sebenarnya telah mengurangi beban pemerintah yang sebetulnya memiliki kewajiban untuk mendidik masyarakat, menyediakan lapangan kerja, and in the end...memberikan kesejahteraan bagi masyarakat....para pedagangkaki lima did all those things on their own...without anybody's help (in this case the government)....

last night, after my daily night discussion with my father, i knew that...para pedagang itu memang sebenarnya libur karena mereka merupakan an embarrassment to the city....something that i knew all along but still hoped that it wasn't true....this is based on my father's own conversation dengan pedagang sate di jalan pajajaran (yang menjadi rute tetap saat orang-orang besar dateng ke Kota Bandung setelah mendarat di Husein)....i thought, because para pedagang di simpang itu sangat banyak dan padat maka (again for safety reasons such as pencegahan assassination attempts or kelancaran arus lalu lintas) para pedagang 'libur'...but bapak pedagang sate di jalan pajajaran itu, cuma dia yang jualan di lokasi itu (pada saa itu)....which means, he isn't really a nuisance is he....but saat para pejabat dateng, dia memang diharuskan 'libur'...so sad....

i seek....if there is any study on how much trickle down effect yang terjadi akibat kegiatan pedagang kaki lima....berapa tenaga kerja yang terserap...berapa rupiah yang mereka hasilkan....maybe that way, pemerintah tidak akan memandang pedagang kaki lima as a nuisance but as an asset for the city and its people....maybe one day they will...at least that's what i hope...

thinking of what one of my friends suggested to me (yang terhormat bapak djae :-) hehehe...) that i should be a caleg so that i become a member of DPR and bring changes....i said, no...selama uang yang aku terima ngga jelas asal usulnya dan tidak sesuai dengan job description and responsibility that i have....i will have no part in it....but looking at whats happening around me....maybe one day i will sir....maybe one day i will....when that day comes...i know that i'll be ready dan kondisi mendukung agar uang yang aku terima, jelas asalnya dan bukan hasil korupsi!!! hahahaha.....

thank you for reading :-)

take care all...
read more “Sebuah cerita mengenai Pedagang Kaki Lima”
Minggu, 12 April 2009

Lagu-lagu Banjar

Hai kaula muda semua...ada yang tau lagu Paris barantai ga? ato Ampat Lima?

Emm..mungkin kalian lebih hafal lagu Lirih yang dinyanyikan Peterpan atau lagunya ST12..

Satu jam saja kutelah bisa na na na...na na na na..

Yach memang tak bisa dipungkiri lagu-lagu daerah termasuk lagu Banjar sedang tergeser oleh lagu-lagu ala band-band anak muda sekarang ni.. Penikmat lagu-lagu daerah ini didominasi oleh para orang-orang tua.

So..saya cuma bisa berharap lagu-lagu daerah dapat terus lestari..

Bagi Kalian yang pengen ngedengerin beberapa lagu banjar yang mungkin aransemennya sudah dimodifikasi biar lebih menarik silahkan download disini:

1. Paris Barantai
2. Kambang Goyang
3. Uma Abah
4. Sangubatulak
5. Amas Mirah
read more “Lagu-lagu Banjar”
Kamis, 26 Maret 2009

Apa OSPEK perlu?

Kutipan diskusi saya dengan seorang teman:
Teman: Buhan mahasiswa wahini ni lain lah kelakuannya ma kita bahari?
Saya : Apanya nang lain?
Teman: Kada tau kayapa seharusnya bersikap lawan dosen dan kekawanan, kada be-ospek punk. Mun kita bahari kadada nang waninya keluar kelas sebelum dosen keluar, mun buhannya wahini labih parah lagi masa dosennya sampai meangkat kabel gulung yang ganal tuch seorangan, kadada mahasiswanya yang membantui.Telalu banar kalo.
Saya : Iya kah? Lalu apa hubungannya wan OSPEK?
Teman: Ya mungkin karena buhannya tu kada pernah merasai OSPEK makanya kadada nang memadahi kayapa harus bersikap wan dosen,ato kekawanan. Coba apa nang membedakan kita wan buhannya selain OSPEK? buhannya pernah SMA jua kalo, buhannya bayar SPP jua malah lebih mahal dari kita bahari.
Saya : Emmm..tapi kan anak jaman sekarang bila ditekan (kaya di OSPEK)buhannya bukannya malah respect tapi jadi memberontak gitu kalo?
Teman: Iya jua pang, OSPEK metode kita bahari tu ada baik wan ada kada baiknya jua, sisi baiknya kita jadi sangat akrab dan setia kawan karena merasa senasib dan sepenanggungan karena tekanan pas OSPEK, sisi kada baiknya kadang-kadang makin ganal jurang antar angkatan senior dan junior karena mereka sangat solid dengan angkatannya, tapi walaupun kaya tu kita jadi kenal wan kaka angkatan dan bisa menimba banyak pengalaman dari buhan kaka-kaka tuch.
Saya : Mun kaya tu baeknya tatap ada OSPEK tapi metodenya dipikirkan yang baik dan sesuai dengan buhannya wahini lah?
Teman: Bisa jua nang kaya tu, kayapa pun metodenya yang penting tujuannya dapat tecapai..ya kalo?.

Nah..menurut kalian gimana
read more “Apa OSPEK perlu?”
Jumat, 20 Februari 2009

Apa sebabnya?

Mengapa lulusan Unlam agak sulit bersaing dengan jebolan Universitas atau Lembaga Pendidikan lainnya?

Ada yang bilang karena kurang sarana dan prasarana, ada juga yang bilang karena kualitas pengajarnya, ada juga yang mengatakan karena metode dan sistem pembelajarannya, ada juga yang bilang karena memang kualitas mahasiswa yang masuk ke Unlam ga bagus-bagus amat.

Nah lho??? kira-kira kenapa ya?

Mari kita telaah bersama-sama.



Menurut saya beberapa hal yang menyebabkan lulusan Unlam kurang bisa bersaing adalah:
1. Kurangnya gambaran lapangan pekerjaan pada saat mereka mendapatkan materi perkuliahan, sehingga tidak ada bayangan apapun tentang apa yang akan mereka kerjakan berkaitan dengan materi kuliah yang diberikan.
2. Mahasiswa kurang dibekali dengan berbagai keterampilan yang diperlukan oleh pasar kerja, seperti penguasaan Bahasa Inggris dan program komputer yang sering digunakan di bidang masing-masing.
3. Mahasiswa tidak dibiasakan untuk berpikir kritis dan kreatif sehingga mereka kurang jeli melihat peluang.
4. Kurangnya interaksi mahasiswa Unlam dengan para steak holder (pengguna lulusan Unlam, seperti perusahaan atau lembaga pemerintahan).Perlu peran serta dan campur tangan Lembaga (Fakultas atau Universitas).
5. Sarana dan prasarana yang kurang memadai dan tidak optimal.
6. Kegiatan kemahasiswaan tidak difasilitasi dan diberi dukungan yang positif.

Jika kita bandingkan dengan Universitas lain yang seangkatan dengan Unlam, kita sudah sangat jauh tertinggal dalam hampir semua sisi. Jadi dapat disimpulkan bahwa lulusan Unlam tidak (mungkin belum) memiliki nilai Plus dibandingkan yang lainnya. Akan tetapi dengan segala kekurangan yang dimiliki Unlam, saya berharap para mahasiswanya dapat lebih kreatif mensiasati kekurangan tersebut.

read more “Apa sebabnya?”
Loading...
Loading...